Skip to main content

Posts

Aku Terjebak!

Aku terjebak Terkunci di ruang hampa Tanpa udara Tanpa mata Tanpa rasa Melihat tak tau kemana Aku terkurung Berkarat oleh perilaku Bait bait terbakar olehku Dan merah ku ubah hitam kelam Ketololan kubuat semakin mendalam Aku malu Malu pada jiwaku Ku beri kebodohan padaku Aku, si aniaya pada diriku Perlahan mati oleh rotasi Kunang kunang sudah pulang Terang dan terangnya kian hilang Aku kembali gelap Tanpa cahaya Tanpa lilin Tanpa harapan Aku kembali ke ruang hampa Mengais nikmat nikmat semu Aku ada dalam kebodohanku Ku robek sendi sendi iman dalam jiwaku Aku mati Terkapar penuh luka Luka hati Luka jiwa Aku pulang, kembali menuju ruang Ruang hampaku yang berantakan

Dibalik Kamu

Nun jauh disana Dibalik riuh tawa juga asikmu Ada aku, meringkuk merindukanmu Menunggu disambangi tawa tawamu Nun jauh disana Dibalik mondar mandirmu Ada aku, usang menunggumu Menunggu sebagai pelampiasanmu Hingga fajar muncul Kau tak kunjung dekatiku Orang udik mengharap balas Iba nian aku lihat diriku Kemana kamu? Kucari hingga pagi Hingga debar harap tak lagi terasa Sekeras inikah menunggu? Remuk redam menunggumu Hingga kulihat samar raut wajah Kau dengan lelaki entah siapa Bergelak tawa diatas perihku Sungguh rusak hati dan harapan Aku pulang, mata berkaca kaca Sejauh datang hanya untuk hancur? Aku pulang, kepalaku menunduk Melihat tawamu dengan entah siapa Selamat tinggal malam Selamat tinggal kamu Pukul dua aku pulang Membawa hati kosong di ruang

Kejujuran Saya Tentang Kamu

Sebagai dua orang yang saling terbelenggu dengan rindu, tentu saya akan melakukan banyak hal ketika ada kesempatan untuk menghabiskan momen bersamamu. Kita bisa seharian keliling kemanapun yang kita suka, denganmu waktu adalah hal menyenangkan yang paling berharga. Saat liburan saya bisa mengajakmu keluar kota. Menikmati udara bukit, jalan yang naik turun, sesekali dengan tanganmu yang menunjuk kesana kemari kita samasama kagum dengan tangan Tuhan yang dengan senang hati menciptakan pemandangan yang membuat mata termanjakan. Selain itu, denganmu saya bisa menenangkan pikiran, hati, dan jiwa yang sedikit galau dengan keadaan. Saya bisa dibuat tak karuan olehmu, dibuat tergila gila oleh ciptaan Tuhan yang amat menarik hati. Denganmu saya belajar. Saya belajar fokus ke makanan tanpa harus sibuk dengan telepon genggam, sesekali ketika saya lupa, kamu bisa saja menegur saya dengan teguran khas perempuan yang amat lembut. Atau ketika ada selembar kata kasar yang tak pantas diucap, kamu men...

Untuk Papah: Pria Yang Selalu Dirindu

Lelaki berbadan kekar yang lebih mirip tentara ketimbang guru adalah lelaki yang malam ini paling kurindukan. Diantara tugas tugas kuliah yang menumpuk dan seabreg rasa lelah, tiba tiba, kenangan kenangan tentang papah melintas diotak tanpa seizin pikiranku terlebih dahulu. Terlintas ingatan ketika papah mengajariku matematika SD dulu, yang dulu menjadi masalah terbesarku. Ingatan ketika dulu papah kadang nimbrung ikut ikutan mimi menguncir rambut panjangku yang dulu agak keriting. Lalu sesudah itu mengikatkan tali sepatuku sebelum aku berangkat ke sekolah. Terlintas didalam otakku ketika papah memboncengku dengan motor, mengantarku ke sekolah yang ketika itu hujan, aku bersembunyi dibalik jas hujan biru papah yang panjang hingga menutupi hampir seluruh motor. Tiba tiba malam ini aku teringat: Ketika dulu sewaktu aku menangis berselesih dengan adik, papah yang selalu menenangkanku, menggendongku dan menyanyikan dengan merdunya lagu lagu campursari dan keroncong jawa yang digemarinya...

Usang Berdebu

Debu debu telah menutupku Menjadikan aku tak terlihat seperti aku Menjadikan aku benda kotor yang aneh Menjadikan aku benda berdebu Aku seperti mati Mereka melihatku sudah habis Tak ada yang sudi mendekat Mereka memandangku enteng Aku benda berdebu Lupa cara bergerak, berdebu tak bergerak Aku benda usang Tak tersentuh dan ditinggalkan Usang Meski sekotor apapun aku Debu dan karat tak bisa menjebakku Aku pantas untuk bergerak Usang tak harus menghalang Aku pedang, debu kugertak langsung terbang Aku pemenang!

Itukah kamu?

Lantas apa yang harus diperbuat? Lari? Berlari macam apa ketika satu kakiku hilang? Terbang? Terbang seperti apa yang kutunjukan ketika sayap sayapku kau runtuhkan? Atau pergi? Jauh darimu padahal kamu adalah bagian dari jiwa jiwaku? Aku mohon Jangan paksa aku berlari ketika aku hanya sanggup berjalan Berdampingan dengan kamu disampingku Jangan buat aku melupakan tiap sudut dirimu dengan sangat terpaksa Jangan buat aku melupakan sesuatu yang setiap saat aku mengingatnya Dengan pagi, dengan naiknya sinar mentari Dengan sangat tidak memikirkan sesuatu dalam hatiku Dengat sangat tak berperasaan Dengan senyuman paling kejam darimu Aku dengan hati bercucuran, dengan perasaan paling remuk Kamu paksa aku untuk berhenti Aku mulai berlari tanpa kaki Mulai mencoba terbang tanpa sayap Entah bisa atau tidak Entah kuat atau tidak Entah mampu atau tidak Tapi kamu yang memaksaku Berhenti Sepi Mati Membiarkan aku sendiri melewati kerikil sepanjang jalan yang aku lewati ...

Senja

Senja tak pernah ingkar Ia selalu datang dengan tepat waktu Selalu datang setia dengan satu warna Senja selalu tau kapan ia datang dan kapan ia pulang Senja selalu menjadi hal paling tepat melepas lelah Senja tau apa yang harus dihadirkan Warna jingga Bulatan sempurna Hingga cahaya yang redup redam Senja tak pernah berdusta Menutup siang dan memulai malam dengan cara yang khas Senja selalu mampu membuat canda Mengajak patah hati untuk tertawa Untuk senja Perlahan dengan perlahan sinarmu mulai hilang Menandakan awal kelelahan Tanda aku harus pulang Sampai esok kembali senja Sampai jumpa!