Skip to main content

Posts

Aku dan Ruang Ruang Sempit

Disini sempit Tembok- tembok membentuk kubus Disini pahit Tak ada  kegagahan selain pukulan Enam bulan lebih 20 hari Neraka seperti sedang kujejaki Pak tua menyebalkan Yang pada akhirnya harus mati Dikurung di ruangan sempit karena judi Apapun, Semua menjadi lebih terlihat disini Atau si tambun yang tak bersahabat dengan nafsu Masuk ruang neraka karena nafsu Dan tempat ini tak lain adalah cerminan Bahwa manusia memang harus dikekang Sial si gagu lah yang tak berteman dengan waktu Hanya oleh sesuap nasi juga bayar listrik bulanan Tiga bebek tetangga dirampok olehnya Malang ia harus kena tangkap Kini dia bersamaku, sedang tidur, menahan dingin didalam bui

Ternyata Kamu

Aku tak pernah menduga jika perkenalan sederhana kita membuat kita menjadi lebih dekat, sangat dekat. Aku tak pernah menduga bahwa kamulah yang ternyata menemaniku kemanapun yang aku mau, tak jarang atau mungkin memang setiap saat menghiburku. Aku terkejut melihat kita telah melewati cukup banyak fase dan masa dalam perkenalan kita yang berujung pada rasa takut akan kehilangan. Kamu yang sepertinya baru kemarin kutatap, tak kusangka sudah sejauh ini menemaniku berlari. Sudah berapa kilometerkah kita menempuh perjalanan? Kamu yang tak pernah goyah atau runtuh harapan oleh kabar kabar miring tentangku. Kamu yang tetap setia meski sesuatu yang tak mudah selalu datang dengan rutin. Kamu yang tetap sabar menunggu kabar, tetap sabar menunggu waktu untuk bertemu tak kusangka menjadi perempuan yang paling aktif memberi penghiburan dibawah level setelah ibuku. Ternyata kamulah, perempuan pengertian yang selama ini ada untukku. Kapanpun. Perempuan yang amat jarang sekali marah untuk hal hal k...

Aku Terjebak!

Aku terjebak Terkunci di ruang hampa Tanpa udara Tanpa mata Tanpa rasa Melihat tak tau kemana Aku terkurung Berkarat oleh perilaku Bait bait terbakar olehku Dan merah ku ubah hitam kelam Ketololan kubuat semakin mendalam Aku malu Malu pada jiwaku Ku beri kebodohan padaku Aku, si aniaya pada diriku Perlahan mati oleh rotasi Kunang kunang sudah pulang Terang dan terangnya kian hilang Aku kembali gelap Tanpa cahaya Tanpa lilin Tanpa harapan Aku kembali ke ruang hampa Mengais nikmat nikmat semu Aku ada dalam kebodohanku Ku robek sendi sendi iman dalam jiwaku Aku mati Terkapar penuh luka Luka hati Luka jiwa Aku pulang, kembali menuju ruang Ruang hampaku yang berantakan

Dibalik Kamu

Nun jauh disana Dibalik riuh tawa juga asikmu Ada aku, meringkuk merindukanmu Menunggu disambangi tawa tawamu Nun jauh disana Dibalik mondar mandirmu Ada aku, usang menunggumu Menunggu sebagai pelampiasanmu Hingga fajar muncul Kau tak kunjung dekatiku Orang udik mengharap balas Iba nian aku lihat diriku Kemana kamu? Kucari hingga pagi Hingga debar harap tak lagi terasa Sekeras inikah menunggu? Remuk redam menunggumu Hingga kulihat samar raut wajah Kau dengan lelaki entah siapa Bergelak tawa diatas perihku Sungguh rusak hati dan harapan Aku pulang, mata berkaca kaca Sejauh datang hanya untuk hancur? Aku pulang, kepalaku menunduk Melihat tawamu dengan entah siapa Selamat tinggal malam Selamat tinggal kamu Pukul dua aku pulang Membawa hati kosong di ruang

Kejujuran Saya Tentang Kamu

Sebagai dua orang yang saling terbelenggu dengan rindu, tentu saya akan melakukan banyak hal ketika ada kesempatan untuk menghabiskan momen bersamamu. Kita bisa seharian keliling kemanapun yang kita suka, denganmu waktu adalah hal menyenangkan yang paling berharga. Saat liburan saya bisa mengajakmu keluar kota. Menikmati udara bukit, jalan yang naik turun, sesekali dengan tanganmu yang menunjuk kesana kemari kita samasama kagum dengan tangan Tuhan yang dengan senang hati menciptakan pemandangan yang membuat mata termanjakan. Selain itu, denganmu saya bisa menenangkan pikiran, hati, dan jiwa yang sedikit galau dengan keadaan. Saya bisa dibuat tak karuan olehmu, dibuat tergila gila oleh ciptaan Tuhan yang amat menarik hati. Denganmu saya belajar. Saya belajar fokus ke makanan tanpa harus sibuk dengan telepon genggam, sesekali ketika saya lupa, kamu bisa saja menegur saya dengan teguran khas perempuan yang amat lembut. Atau ketika ada selembar kata kasar yang tak pantas diucap, kamu men...

Untuk Papah: Pria Yang Selalu Dirindu

Lelaki berbadan kekar yang lebih mirip tentara ketimbang guru adalah lelaki yang malam ini paling kurindukan. Diantara tugas tugas kuliah yang menumpuk dan seabreg rasa lelah, tiba tiba, kenangan kenangan tentang papah melintas diotak tanpa seizin pikiranku terlebih dahulu. Terlintas ingatan ketika papah mengajariku matematika SD dulu, yang dulu menjadi masalah terbesarku. Ingatan ketika dulu papah kadang nimbrung ikut ikutan mimi menguncir rambut panjangku yang dulu agak keriting. Lalu sesudah itu mengikatkan tali sepatuku sebelum aku berangkat ke sekolah. Terlintas didalam otakku ketika papah memboncengku dengan motor, mengantarku ke sekolah yang ketika itu hujan, aku bersembunyi dibalik jas hujan biru papah yang panjang hingga menutupi hampir seluruh motor. Tiba tiba malam ini aku teringat: Ketika dulu sewaktu aku menangis berselesih dengan adik, papah yang selalu menenangkanku, menggendongku dan menyanyikan dengan merdunya lagu lagu campursari dan keroncong jawa yang digemarinya...

Usang Berdebu

Debu debu telah menutupku Menjadikan aku tak terlihat seperti aku Menjadikan aku benda kotor yang aneh Menjadikan aku benda berdebu Aku seperti mati Mereka melihatku sudah habis Tak ada yang sudi mendekat Mereka memandangku enteng Aku benda berdebu Lupa cara bergerak, berdebu tak bergerak Aku benda usang Tak tersentuh dan ditinggalkan Usang Meski sekotor apapun aku Debu dan karat tak bisa menjebakku Aku pantas untuk bergerak Usang tak harus menghalang Aku pedang, debu kugertak langsung terbang Aku pemenang!