Skip to main content

Posts

Aku dan Penjahat

Aku melihat orang yang amat jahat Tubuhnya biasa, matanya layu, gerak geriknya lemah Aku melihatnya berkeliaran didalam rumahku, atawa kadang di halaman rumahku Dia tak bersahabat denganku, bahkan ketika aku sebagai pemilik rumah Aku melihatnya sebagai seorang penjahat Aku ngeri, bahkan ketika wujudnya masih menyerupai manusia Ia selalu bersembunyi kala aku mencarinya, menyusup entah kemana Kupanggil disetiap sudut ruangan, tapi tak ada balasan, pun ketika dihalaman rumah Andai aku menemukannya, akan ku adili sendirian Akan kutegur hingga kupingnya panas sekalian Kutumpahkan rasa muak sampai menyerap kedalam sendi sendinya Kupukul hingga robek lapisan kulit kulitnya, hingga merasa kapok dengan perannya Lalu, disuatu sore kala aku pulang Kudapati lelah sedang hinggap ditiap tiap bagian tubuhku Aku duduk sejenak, lalu mandi, lalu merapihkan diri Aku terkejut kala melihat cermin, kudapati penjahat itu dalam cermin Sedang bimbang, matanya layu kelela...

Hidup

Sesuatu yang menggandeng tanganmu itu Sesuatu hal yang mengisi hatimu itu Sesuatu yang kau agung agungkan Sebagai kekasih nan penjagamu Sesuatu yang kau anggap itu hidup Hidupnya menggandeng tanganmu Hidupnya menjadi pelipur lara hatimu Hidupnya menjadi apapun yang kau butuh Hidupnya untuk sesuatu yang kau perlu Dan suatu nanti ia berhenti hidup Hidupnya cuma tinggal cerita Gandengan tangannya denganmu cuma mitos Dan apapun tentangnya yang kau agungkan pupus Sirna tanpa mampu kau jelaskan Hidupnya sudah mati Hidupnya sudah tiada lagi Hidupnya sudah jadi cerita belaka Hidupnya sudah terkubur Dan nafasnya menjadi sia sia Tak bernyawa Dan kau sendirian Bingung cari siapa yang genggam tanganmu Bingung berlarian siapa yang jaga tidurmu Alhasil kaupun binasa Tak bernyawa Dan cerita tentang perjalanan hidupmu cuma mitos Hidupmu cuma mitos

Aku dan Ruang Ruang Sempit

Disini sempit Tembok- tembok membentuk kubus Disini pahit Tak ada  kegagahan selain pukulan Enam bulan lebih 20 hari Neraka seperti sedang kujejaki Pak tua menyebalkan Yang pada akhirnya harus mati Dikurung di ruangan sempit karena judi Apapun, Semua menjadi lebih terlihat disini Atau si tambun yang tak bersahabat dengan nafsu Masuk ruang neraka karena nafsu Dan tempat ini tak lain adalah cerminan Bahwa manusia memang harus dikekang Sial si gagu lah yang tak berteman dengan waktu Hanya oleh sesuap nasi juga bayar listrik bulanan Tiga bebek tetangga dirampok olehnya Malang ia harus kena tangkap Kini dia bersamaku, sedang tidur, menahan dingin didalam bui

Ternyata Kamu

Aku tak pernah menduga jika perkenalan sederhana kita membuat kita menjadi lebih dekat, sangat dekat. Aku tak pernah menduga bahwa kamulah yang ternyata menemaniku kemanapun yang aku mau, tak jarang atau mungkin memang setiap saat menghiburku. Aku terkejut melihat kita telah melewati cukup banyak fase dan masa dalam perkenalan kita yang berujung pada rasa takut akan kehilangan. Kamu yang sepertinya baru kemarin kutatap, tak kusangka sudah sejauh ini menemaniku berlari. Sudah berapa kilometerkah kita menempuh perjalanan? Kamu yang tak pernah goyah atau runtuh harapan oleh kabar kabar miring tentangku. Kamu yang tetap setia meski sesuatu yang tak mudah selalu datang dengan rutin. Kamu yang tetap sabar menunggu kabar, tetap sabar menunggu waktu untuk bertemu tak kusangka menjadi perempuan yang paling aktif memberi penghiburan dibawah level setelah ibuku. Ternyata kamulah, perempuan pengertian yang selama ini ada untukku. Kapanpun. Perempuan yang amat jarang sekali marah untuk hal hal k...

Aku Terjebak!

Aku terjebak Terkunci di ruang hampa Tanpa udara Tanpa mata Tanpa rasa Melihat tak tau kemana Aku terkurung Berkarat oleh perilaku Bait bait terbakar olehku Dan merah ku ubah hitam kelam Ketololan kubuat semakin mendalam Aku malu Malu pada jiwaku Ku beri kebodohan padaku Aku, si aniaya pada diriku Perlahan mati oleh rotasi Kunang kunang sudah pulang Terang dan terangnya kian hilang Aku kembali gelap Tanpa cahaya Tanpa lilin Tanpa harapan Aku kembali ke ruang hampa Mengais nikmat nikmat semu Aku ada dalam kebodohanku Ku robek sendi sendi iman dalam jiwaku Aku mati Terkapar penuh luka Luka hati Luka jiwa Aku pulang, kembali menuju ruang Ruang hampaku yang berantakan

Dibalik Kamu

Nun jauh disana Dibalik riuh tawa juga asikmu Ada aku, meringkuk merindukanmu Menunggu disambangi tawa tawamu Nun jauh disana Dibalik mondar mandirmu Ada aku, usang menunggumu Menunggu sebagai pelampiasanmu Hingga fajar muncul Kau tak kunjung dekatiku Orang udik mengharap balas Iba nian aku lihat diriku Kemana kamu? Kucari hingga pagi Hingga debar harap tak lagi terasa Sekeras inikah menunggu? Remuk redam menunggumu Hingga kulihat samar raut wajah Kau dengan lelaki entah siapa Bergelak tawa diatas perihku Sungguh rusak hati dan harapan Aku pulang, mata berkaca kaca Sejauh datang hanya untuk hancur? Aku pulang, kepalaku menunduk Melihat tawamu dengan entah siapa Selamat tinggal malam Selamat tinggal kamu Pukul dua aku pulang Membawa hati kosong di ruang