Skip to main content

Posts

Rumahnya

Tak ada warna disetiap dindingnya Tak ada hijau, kuning, merah, tosca Tak ada perabot yang dibanggakan Tak ada apapun, bahkan kehormatan sebagai manusia Temboknya penuh tambalan Fotonya cuma satu, tahun 1990an Gordennya sobek sana sobek sini Jika hujan, airnya masuk dalam kamar Jika panas, teriknya menyengat hingga ruang tamu Adakah Ia merasa rendah? Kurasa tidak, tidak sekalipun Kulihat mata bahagianya, Ia bahagia Karena Ia mengerti, Tuhan bersamanya

Jangan berhenti membuatku takut

Jangan behenti membuatku takut. Jangan berhenti membuatku takut karena tak bisa mendengar apa yang sedang kau jalani, apa yang sedang kau lakukan. Tetaplah kamu seperti itu, tetaplah membuatku takut kehilangan kabar darimu. Karena aku suka ketakutan yang kamu ciptakan. Saat kita sedang asyik bersama. Waktu, dengan segala kewenangan yang dimilikinya, harus membatasi kebersamaan kita yang sedang melepas rasa yang sering mengendap disela sela perasaan kita, rindu. Kamu, hal yang membuatku takut dengan waktu, yang membuatku berpikir alangkah lebih baik semesta ini jika tak ada waktu. Tetaplah seperti itu, jangan berubah. Karena aku suka caramu membuatku takut dengan waktu. Saat dunia sedang gila gilanya. Saat perempuan macam apapun mudah dicari. Saat perempuan model apapun mudah datang. Aku justru dibuat takut oleh kepergianmu. Aku justru dibuat berpikir bahwa tak ada perempuan lain sepantas kamu yang boleh hadir dihidupku. Tapi aku suka, aku suka caramu membuatku takut jika kau perg...

Aku dan Hujan

Aku tak suka hujan Karena bila ia datang Kami tak bisa tidur Rintiknya membasahi kasur Aku tak suka hujan Gemuruhnya membuat kami tak karuan Membuat takut dan bimbang Takut genteng pecah dan berjatuhan Aku tak suka hujan Airnya seringkali tak sopan Ia masuk lewat atap tanpa pamitan Tak tau malu ia masuk tanpa sungkan Aku tak suka hujan Bila hujan turun, aku cepat sembunyi Biar tak disuruh ayah membenahi Ruang tamu, kamar, dapur yang sudah banjir Aku tak suka hujan Karena kadang ia membawa angin Deras terjangannya bukan main Rumah kami hampir terbang laksana angin menghembus kain Aku tak suka hujan Bukan oleh siapa Tapi karena apa

Aku dan Penjahat

Aku melihat orang yang amat jahat Tubuhnya biasa, matanya layu, gerak geriknya lemah Aku melihatnya berkeliaran didalam rumahku, atawa kadang di halaman rumahku Dia tak bersahabat denganku, bahkan ketika aku sebagai pemilik rumah Aku melihatnya sebagai seorang penjahat Aku ngeri, bahkan ketika wujudnya masih menyerupai manusia Ia selalu bersembunyi kala aku mencarinya, menyusup entah kemana Kupanggil disetiap sudut ruangan, tapi tak ada balasan, pun ketika dihalaman rumah Andai aku menemukannya, akan ku adili sendirian Akan kutegur hingga kupingnya panas sekalian Kutumpahkan rasa muak sampai menyerap kedalam sendi sendinya Kupukul hingga robek lapisan kulit kulitnya, hingga merasa kapok dengan perannya Lalu, disuatu sore kala aku pulang Kudapati lelah sedang hinggap ditiap tiap bagian tubuhku Aku duduk sejenak, lalu mandi, lalu merapihkan diri Aku terkejut kala melihat cermin, kudapati penjahat itu dalam cermin Sedang bimbang, matanya layu kelela...

Hidup

Sesuatu yang menggandeng tanganmu itu Sesuatu hal yang mengisi hatimu itu Sesuatu yang kau agung agungkan Sebagai kekasih nan penjagamu Sesuatu yang kau anggap itu hidup Hidupnya menggandeng tanganmu Hidupnya menjadi pelipur lara hatimu Hidupnya menjadi apapun yang kau butuh Hidupnya untuk sesuatu yang kau perlu Dan suatu nanti ia berhenti hidup Hidupnya cuma tinggal cerita Gandengan tangannya denganmu cuma mitos Dan apapun tentangnya yang kau agungkan pupus Sirna tanpa mampu kau jelaskan Hidupnya sudah mati Hidupnya sudah tiada lagi Hidupnya sudah jadi cerita belaka Hidupnya sudah terkubur Dan nafasnya menjadi sia sia Tak bernyawa Dan kau sendirian Bingung cari siapa yang genggam tanganmu Bingung berlarian siapa yang jaga tidurmu Alhasil kaupun binasa Tak bernyawa Dan cerita tentang perjalanan hidupmu cuma mitos Hidupmu cuma mitos