Skip to main content

Posts

Untuk Kamu, Lelaki Penggila Buku

Minder adalah sikap rendah diri. Aku minder berada dekat denganmu, dekat dengan lelaki sepertimu. Aku minder dengan teman temanmu. Aku minder dengan mantanmu. Perempuan jalang sepertiku mampukah memberi sekeping memori yang bisa kau ingat? Perempuan tak punya apa apa sepertiku bisakah memberi kenangan kepadamu yang ketika kau mengingatnya kau mengingatku juga? Entah, aku tak berani menebak nebak pertanyaan absurd dari pikiran pikiran liarku. Kamu membuatku benar benar gila setelah sabtu malam itu. Kamu datang bergerombol dengan teman temanmu, hanya kamu yang kulihat tak banyak bergerak, kamu seperti tak tau apa yang harus dilakukan lelaki di klub. Kamu hanya duduk duduk statis sementara teman temanmu asik berjoget dilantai. Lalu kamu cuma melempar senyum yang kutau sangat dipaksa ketika pertama kudekati. Kamu benar benar membuatku penasaran. Lelaki macam apa yang pergi ke klub tapi hanya duduk? Malah dengan tak sengaja aku melihatmu sedang membaca surah Al-Ikhlas lewat ponsel beruk...

Tentang Pagi Ini

Masih tiga pagi. Aku masih asik menghisap rokok, tamu tamu belum sepenuhnya pulang. Aku masih menunggu, sayang jika ada rupiah yang terlewatkan. Jum'at ini entah mengapa aku menjadi penganggur. Dandanan setengah terbuka yang biasa aku pertontonkan mendadak tak dilirik, mentok hanya dilirik sebelah mata. Belum ada lelaki hidung belang yang menawar, belum ada bangsat yang datang untuk mengajak sekamar. Harus tau, kadang keadaan luang seperti ini membuatku rindu, rindu dengan kehidupanku yang dulu dulu, yang masih asri, masih penuh dengan canda dan tawa. Kadang keadaan seperti ini membuatku melamun, menghayal andai aku punya banyak uang, punya suami yang sopan dan pengertian, aku menghayal andai aku berhenti menjadi pelacur, berhenti menjadi perempuan penjerat nafsu suami suami orang. Seperti perempuan perempuan kebanyakan, aku juga tak sudi mengais rupiah dengan cara yang amat hina. Aku juga tak sudi harus melayani lelaki yang seumur dengan ayahku, seumur dengan adikku, seumur d...

Ramadhan

Aku masih diluar ketika ramadhan menyapaku, memberikan kenikmatan kenimatannya selama sebulan kepadaku. Tak peduli ramadhan datang pada bulan apa, tanggal berapa, aku selalu suka. Ramadhan memberi segalanya yang kubutuhkan, memberi apapun yang aku inginkan. Ramadhan selalu bisa membuatku tenang, seakan ia mengerti apa yang harus dihadirkan untuk hati yang sedang bimbang, yang sedang senang, yang sedang galau, ramadhan selalu mengerti segala jenis perasaan. Ramadhan, tujuh hari menjelang kau hilang, tujuh hari menjelang kau pergi, aku ingin berbagi cerita. Ramadhan, warna warna indah seketika datang, bersamaan dengan hari awal puasa, bersamaan dengan kau datang. Ramadhan, kata pengganti untuk bulan penuh ujian, bulan penuh rahmatan dan bulan segala bulan yang penuh pengampunan. Wanginya berbeda dengan bulan bulan sebelum Ramadhan, khas. Warung warung makan lebih sopan, menutup tempatnya dengan gorden, membuat siapapun yang tak puasa tak perlu malu dilihat orang, juga dengan pemilik ...

Tuhan, Islamkah aku?

Tuhan Diujung senja menuju berbuka puasa Aku menunduk malu Tiba tiba termenung tak karuan Islamkah diriku? Tuhan Untuk siapakah aku shalat? UntukMu atau untuk kesombonganku? Amalku ikhlas hati atau hanya untuk pamer? Islamkah aku, Tuhan? Tuhan Puasaku menahan lapar atau nafsu? Atau puasaku justru hanya ria? Ajang pamer siapa yang paling sering Islamkah aku, Tuhan? Tuhan Tarawihku lebih lama, lebih berlimpah rakaat Itukah khusyu atau jalan lain ingin dipuji? Atau cari muka di sesama hambaMu yang lain Islamkah diri ini, Tuhan? Tuhan Islamkah aku? Yang kulakukan untukku atau untukMu? Jangan jangan, Tuhan Ibadahku hanya ajang pamer Ibadahku hanya kepentingan untuk diriku Sarana merendahkan umatMu yang lain Islamkah aku, Tuhan?