Skip to main content

Posts

Surat Tentang Part Terbaik Dalam Hidup

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Nama-nama baru bermunculan, maju kedepan tak mau kalah mengambil peran. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, tapi bukan juga waktu yang pendek. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk sebuah kenangan yang tak akan bisa dilupakan seumur hidup. Iya, seumur hidup. Tiga tahun yang lalu, persis ketika saya belum mengenal apa itu kedewasaan, kalian mengajarkan saya sesuatu yang lebih dari apa yang belum saya ketahui. Tiga tahun yang lalu, ketika saya masih belum mengenal apapun, masih samasekali belum mengerti apa itu menghargai, kalian menyajikan begitu banyak arti penghargaan, mengajarkan saya bahwa ternyata menghargai lebih dari sekedar menghormati, kalian mengajarkan saya bahwa menghargai juga berarti memahami. Tiga tahun yang lalu, saat ketika saya mencari apa itu teman, kalian justru mengajarkan saya apa itu persahabatan, pertemanan tulus yang jelas tak bisa saya hitung nilainya. Tiga tahun yang lalu, tepat ketika upacara bendera pertama di...

Mimpi

Ada yang tumbuh dalam dadaku, sesuatu yang membuatku berdebar ketika mengingatnya, impian-impian itu tumbuh didalam hatiku. Semakin hari skalanya semakin membesar, semakin hari tumbuh dengan ukuran yang tak bisa kuhitung, sampai-sampai aku takut bahwa hatiku tak kuat menampung impian-impianku sendiri. Impianku sederhana saja, pertama yang paling kuingin adalah sesosok lelaki. Lelaki yang bukan cuma menemaniku tidur, bukan untuk menemaniku mabuk, tapi lelaki yang setia disampingku apapun yang terjadi denganku. Lelaki yang rela menghabiskan hari-hari berharganya hanya untuk mengobrol denganku, menemaniku saat aku kesepian dan ketakutan. Aku mau lelaki yang rela mengorbankan waktunya untuk menafkahi-ku, aku sudah cukup muak dengan lelaki yang butuh denganku hanya untuk memuaskan nafsunya. Aku butuh lelaki yang benar benar lelaki, yang membuat keringatnya menjadi pahala, yang membuat lelahnya menjadi ibadah dan yang membuat ucapannya berharga. Aku mau lelaki utuh untuk menjadi suamiku, s...

Kelak, Kamu Adalah Orang Yang Paling Kurindukan

Aku tak pernah tau sampai kapan aku terus bisa dekat denganmu, menikmati indah senyummu, dan tentu, tertawa lepas bersamamu. Setiap kali kita bertemu, aku selalu merasa menjadi lebih dekat denganmu, merasa bahwa kamulah manusia yang tepat untuk menemaniku sampai tua nanti. Lalu, aku membayangkan setiap seduhan kopi pagimu diracik olehku, membayangkan setiap akhir pekan, aku dan dirimu menghabiskan pagi pagi yang indah dihalaman rumah, kamu menikmati kopimu dan aku menikmati teh-ku. Kita ngobrol tentang masa lalu kita, menceritakan masa masa pacaran ketika aku dan kamu masih canggung satu sama lain, atau tidak menutup kemungkinan kita malah membicarakan angka dalam jumlah anak yang kita rencanakan. Jika kelak kita ditakdirkan untuk menghabiskan waktu bersama-sama hingga tua nanti, kamu menjadi suami dan aku menjadi istrimu, aku selalu membayangkan betapa indahnya separuh hidupku dihabiskan dengan lelaki yang amat menyenangkan sepertimu, ditambah buah hati yang lucu lucu. Setiap pagi s...

Tempat Baru

Aku terpenjara oleh rasaku, mati rasa oleh perasaanku sendiri. Tapi, kamu adalah hal yang bisa membuatku berani menghadapi ke-hambaran ini. Jum'at yang lalu, tepat pukul tujuh malam, telepon genggamku bergetar, ada namamu disana, pertanda panggilan masuk dari lelaki yang membuatku mampu melupakan kesakitan kesakitan yang ada. Dari ceritamu, kamu hampir setiap hari ke klub, bahkan melalui suara manismu diujung telepon kamu bilang sampai kerumah mami untuk menanyakan keberadaanku. Entah ceritamu itu serius dan betul betul sesuatu yang kamu lakukan atau seperti biasa bahwa kamu cuma mau menghiburku. Apapun itu, aku senang mendengarnya, aku tersenyum tak karuan, tak jelas perasaan apa yang sedang kurasakan, aku senang. Senang yang terlalu senang. Lalu kamu bertanya dengan pertanyaan khas darimu yang selalu membuatku bersemangat menjawabnya. "Kenapa harus pindah sih? Aku udah lama banget ngga baca komik sama km". Aku cuma diam, menutupi rapat rapat semangatku agar tak kamu ...

Mami

Empat tahun yang lalu, mami memberiku peluang untuk hidup yang menurutnya lebih berhak aku dapatkan. Aku tak pernah mengerti apa maksudnya ketika ia bilang bahwa perempuan bisa menjadi harta, menjadi emas, menjadi uang hanya bermodal tubuhnya. Aku terlalu putih untuk kopi yang mami tuangkan, tak bisa kunikmati, hanya kutenggak perlahan lahan sampai aku terbiasa dengan pahitnya. Mami memberiku segalanya. Kost-an yang cukup lebar, lengkap dengan segala apapun yang dibutuhkan, listrik, TV, AC, kasur yang empuk, bersih dan macam macam barang yang sudah tertata rapih ketika aku menempati kamar kost mami yang diberikan kepadaku. Aku seperti dibawa terbang, semua yang kubutuhkan langsung dibawakan, dihadirkan cuma untuk menyenangkanku. Mami, sampai hari ini aku pergi dari rumahnya secara baik baik, tak pernah aku merasa tak enak hati karena kata katanya, karena perbuatannya. Mami, meskipun pekerjaannya tak baik, meskipun yang ia lakukan sama sekali tak boleh ditiru oleh siapapun, tapi seben...

Anak-Anak

Ada yang lebih aku sukai ketimbang libur menjadi pelacur, aku suka melihat anak-anak bermain. Sepulang dari pasar membeli sayur dan bahan makan untuk sehari, aku memilih pulang dengan jalan kaki. Aku punya cukup uang untuk naik ojek, tapi pagi itu memaksaku menggunakan kaki-ku untuk melangkah. Setelah melewati beberapa rumah dan gang, perjalanan pulangku terhenti di depan sebuah sekolah dasar. Aku duduk, kuluruskan kakiku kedepan sambil memesan minuman botol, pagi itu seperti waktu menungguku, aku tak tergesa-gesa untuk sampai kerumah, aku tak merasa dikejar-kejar 'setoran', waktu dan diriku begitu mesra, kita seperti saling menunggu satu sama lain. Jam sembilan pagi. Didepanku tepat gerbang pintu sekolah, anak anak berhamburan keluar membeli jajanan, ada yang sekedar duduk duduk, ada yang sedang main petak umpet, macam-macam. Mereka tertawa-tawa, terbahak-bahak, sedang aku duduk dengan leganya, kuukir senyuman dibibirku, tak jelas kemana arah senyumanku. Dalam hatiku, tak ...