Skip to main content

Posts

Yatim Piatu

Yatim piatu itu menahan lapar Sedang tetangganya sibuk berpuasa Ia mengganjal perutnya dengan batu Sedang tetangganya sibuk shalat Lalu seharian hanya minum, minum dan minum Dari air yang tak dimasak Karena tak ada gas Tak ada kayu Tak ada korek Sedang tetangganya sibuk menabung untuk berhaji Yatim piatu itu mati dibawah atap bolong di rumahnya Disaat tetangganya sibuk beribadah

Ramadan Kali Ini

Sudah Ramadan lagi. Lalu, sudah harus berpuasa lagi. Maaf ya, Tuhan. Bahkan, sampai sudah ketemu di ramadan kali ini, aku masih menjadi seperti ramadan-ramadan sebelum ini. Masih menjadi sebusuk-busuknya manusia.

Puasa

Tuhan, sudah mau setengah dari sebulan penuh, puasa sudah kujalani, sudah setengah dari sebulan penuh, aku menahan lapar dan haus, dan berujung pada ketakutanku. Takut bahwa ternyata puasaku tak membuatku mampu menahan hawa nafsu. Takut bahwa ternyata puasa tak mengubah sikapku. Bahwa, ternyata, Tuhan, puasa hanya membuatku haus dan lapar selama berpuasa. Lalu setelah itu, berbuka, setelah itu, aku tak bisa lagi menjaga nafsu-nafsuku. Bahwa, ternyata, Tuhan, puasa hanya kedok-ku terlihat baik dihadapanmu. Dibalik itu, aku masih, menjadi manusia dengan selemah-lemahnya iman.

Kita adalah

Kita adalah rakyat yang senang sekali mengkritik segala hal yang berbau politik tanpa pernah sekalipun belajar politik. Kita adalah rakyat yang doyan sekali membahas soal literasi tanpa pernah memegang buku, apalagi membaca. Kita adalah bagian rakyat yang kemana pergi, dimana berada, dimanapun, selalu berbicara tentang agama tanpa pernah menyentuh kitab suci, tanpa pernah menjadi manusia. Kita meraba sesuatu dengan wajah mendongak keatas. Kita melihat sesuatu dengan mata ditutup rapat. Kita seolah menjadi sesuatu tanpa pernah menjadi sesuatu. Kita hanya pandai menjadi seolah-olah kita. Kita adalah kekosongan yang tak mau mengaku.

Ibu

Ibu Adalah kebaikan Adalah keramahan Adalah kelembutan Adalah bibir yang mengecup kening ketika aku tidur Ibu Adalah tangan Adalah kaki Adalah raga Adalah semua itu yang semuanya ia sumbangkan untukku Ibu Adalah perempuan Adalah kehebatan Adalah kesabaran Adalah wujud Tuhan yang paling nyata

Apa kabar, pa?

Pa, apa kabar? Seperti do'aku selalu, semoga papa selalu diberi sehat dan keteguhan hati ya, pa. Aku menulis ini setelah baru saja menyelesaikan tugas mata kuliah Internet dan Teknologi WEB. Aku duduk dipinggir jendela di lantai 6, gedung C. Aku sedang menikmati Bandung yang penuh dengan kabut melalui jendela didepanku. Aku terpaku melihat kota ini dari atas. Papa sedang apa di rumah sana? Hari ini, aku lelah sekali, pa. Tugas dan peralatan makrab belum kuselesaikan, badan sedikit meriang --mungkin karena aku belum terbiasa dengan dinginnya Bandung, juga tubuhku pegal-pegal. Banyak hal ingin kuceritakan, beban ini begitu berat, pa. Sekolahku yang swasta, bayaran d pp yang bagi kita mahalnya luar biasa, kadang membuatku khawatir, apa mampu aku membayar rupiah-rupiah itu dengan sesuatu yg setimpal? Atau jangan-jangan, aku hanya akan memberatkan pundakmu? Di usia papa yang sudah menua, oleh karena aku, papa masih harus memikirkan bagaimana membayar biaya sekolah. Belum lagi, biaya...