Skip to main content

Posts

Pulang, Rumah dan Luka

Yang aku tau, tiap orang punya lukanya masing-masing. Entah besar menganga atau sekecil titik setelah kalimat atau kata, ditambalnya luka itu dengan senyuman palsu di bibir, semata-mata agar semuanya menjadi lebih baik, semata-mata agar semuanya terlihat baik-baik saja. Aku masih menghisap sebatang rokok yang ujungnya sudah abis terlumat api, apinya terus menggerus sampai hanya menyisakan setengah badan rokok ketika aku memberanikan diri menghampiri perempuan yang duduk diujung tempat di terminal tempat aku menunggu tumpangan. Lelah jelas terlihat dari keningnya yang sedikit berkeringat, tas besar di sampingnya menandakan ia akan pergi ke suatu tempat, entah kemana. "Lagi nunggu, mba?" Obrolan yang jelas basa-basi, adzan maghrib beberapa saat akan terdengar dari sudut musholla di samping kios para pedagang. Tak ada maksud apapun, murni obrolan pembuka, aku butuh lawan bicara. "Iya", jawaban singkat yang dengan segera disusul senyum dari bibir perempuan, wajahnya ...

Kereta Hari Ini

Kereta hari ini lebih bersih, lebih tertib dan tentu, lebih tertata dan rapih. Tahun ketika aku terakhir naik kereta, kereta masih dijajahi banyak sekali orang jualan. Mulai dari kopi sampai nasi goreng, mulai dari yang menjual air mineral sampai goreng-gorengan. Rame sekali. Hari ini, ketika setelah sekian lama baru merasakan lagi menikmati duduk di kereta, aku justru rindu ketika terakhir kali merasakannya. Riuhnya pedagang kopi yang menjelajahi gerbong demi gerbong sambil menenteng termos yang bentuk dan warnanya begitu khas. Berisiknya orang berdagang gorengan menawarkan setiap bakwan, tempe goreng, tahu goreng dan berbagai macam aneka gorengan lainnya. Gerbong ekonomi tahun-tahun itu begitu kacau dan amat sangat tidak tertib, sampai beberapa kali aku tak dapat tempat duduk. Beruntung ada kebaikan menghampiri kami waktu itu ketika semua sedang sibuk menikmati kekacauan yang terhidang di depan mata. Anak muda yang waktu itu usianya kurang-lebih seperti umurku hari ini mempersilahk...

Ibu, Bolehkah aku?

Ibu, bolehkah aku pulang ke rumahmu? Aku mau sebentar saja, merebahkan badan di kamarku. Kamar yang sewaktu kecil tempat kau obati aku dari demam tinggiku. Boleh ya bu? Sekedar istirahatkan badanku dari mimpi-mimpi yang panjang, yang ternyata melelahkan sekali untuk menjemput mereka. Ibu, bolehkah aku? Berteduh dibalik pelukmu, menyingkirkan sejenak segala cita-cita dan mimpi masa kecilku. Mimpi yang kadang membuatku penat dan lelah. Aku berpikir, selain peluk dari tubuh hangatmu itu, tak ada lagi yang bisa menenangkanku dari segala penat dan kacau dalam pikiranku. Ibu, bolehkah aku? Memakai baju-bajuku lagi, yang disetrika oleh tangan manismu, yang lipatannya aku paham betul. Ibu, boleh ya? Aku pulang ke rumahmu. Menjadi anak kecilmu lagi, yang kau kecup keningku ketika menangis, yang kau teguhkan hatiku ketika ban sepedaku bocor. Yang kau cuci bajuku sehabis aku berenang di kali dekat masjid kampung kita itu, yang kau cuci baju bekas aku pakai hujan-hujanan sore itu. Pulang ke mat...

Rezeki

"Tuhan, mohon beri rezeki berupa air untukku, untuk aku bisa minum. Aku haus sekali." Do'a seorang hamba dari dalam kamar tidurnya, dari rumah yang basah kuyup diguyur hujan.

Gadis Lima Belas Tahun

Lalu, gadis berumur lima belas tahun itu menghampiriku perlahan, sambil melambai manja ia menawarkan: "Dua ratus lima puluh ribu, mas." Aku hanya senyum sekadar senyum. "Umurmu berapa, dek?" "Lima belas tahun, mas." "Bukankah tak baik gadis lima belas tahun di sini?" Lalu, hening sesaat. Sesak dadaku berpikir kalau-kalau ucapanku menyinggung perasaannya. "Hidup tak hanya tentang baik dan buruk, mas. Setidaknya begitu menurut saya."