Skip to main content

Posts

Bapak yang Tidak Pernah Bertanya IPK

Bapak tidak pernah sekalipun mengajukan pertanyaan yang bahkan amat sangat berhak untuk ia ajukan, mengingat segala biaya kuliah dan menjadi mahasiswa ditanggung penuh olehnya. Bapak tidak pernah bertanya perihal IPK. Setiap kali pulang, dari sorot matanya, ia rutin bertanya, "Bagaimana rasanya hidup?"  Dan aku masih belum benar-benar menemukan jawabannya.
Aku menutup mata Gelap, hening dan hampa Selama ini, kematian selalu menakutkan Diantara sedikit kesadaran, Aku bergumam, "Kematian tidak melulu mengerikan"

Di Warung Kopi Jam 1 Pagi

Di warung kopi di jam satu pagi Obrolan dibuka tentang politik dan sepiring nasi yang harus terhidang besok pagi Penumpang yang entah turun dari bus kelelahan atau manusia entah apa atau bahkan setan jenis apa yang hendak menumpang dini hari Di warung kopi, rupiah adalah makhluk halus yang selalu ditunggu kedatangannya Di pangkalan yang sudah akrab dengan terik matahari dan keringat diri adalah tempat terbaik menunggu makhluk paling diburu satu semesta Kadang ia datang dengan lembaran merah yang tercetak namanya diikuti sederet nominal, kadang ia menghampiri  berwujud koin perak dengan nominal yang tak lebih banyak Kopi dan setumpuk obrolan ringan menjadi penghias malam setiap petang "Kopinya kang, satu", kalimat yang akrab sebelum segelas air hitam pahit berada di atas meja Lalu diikuti obrolan yang, seperti selalu, membuat malam menjadi lebih hidup Diantara lampu jalan yang redup-redam, di pinggir aspal yang ratusan jenis mobil lalu-lalang, di malam yang kadang ber...

Bocah Cadel Lampu Merah - Morfem

Ku menghentikan motorku Di lampu merah selatan Jam sebelas di arloji Kurapatkanlah jaketku Dan, berkhayal telah di rumah Seorang bocah lelaki Yang belum lancar bicara Mendekati dengan senyum Dan tangan yang menengadah Sepertinya hanya itu Yang baru sempat diajarkan Oleh Ibunya Ia bermain, besar di trotoar Diterangi, hangat lampu jalan Nyanyi riuh klakson, debu Ia dibuai, caci maki merdu Matahari, warna-warni mesin Mendung siang hari, peluh Bermandi hujan di aspal Malam silih berganti Pasti jumpa dirinya Kini mulai bisa nyanyi Lagu yang sering di TV Walaupun cadel lidahnya Ia bermain besar di trotoar Diterangi hangat lampu jalan Ia dibuai caci maki merdu Matahari, warna-warni mesin Nyanyi riuh klakson, peluh Bermandi hujan di aspal Tampak ibunya bangga Di kejauhan berkipas Sambil nikmati limunnya