Skip to main content

Makhluk Macam Apa Aku Ini?

Tuhan sudikah Engkau membuatkan aku tempat di kehidupan yang abadi itu, tempat sekedar untuk aku berteduh dari dinginnya hati yang membeku. Tempat aku berlindung dari panasnya percikan api yang paling api nerakamu. Tempat aku bersembunyi dari jiwaku yang selalu kuajak menjauh dan menjauh dari jalanMu.

Akankah ada tempat untukku, Tuhan?

Tempat untuk manusia yang tak pernah dekat dengan tempat ibadah. Tempat untuk manusia yang tak pernah kenal sembahyang, yang tak pernah mengangkat tangan untuk berdoa. Tempat untuk manusia seangkuh-angkuhnya manusia.

Akankah sampai pada waktunya, masih bisa aku menunduk malu dihadapanMu?

Disaat yang lain sibuk berlomba-lomba bersujud dihadapanMu. Atau ketika hambaMu yang lain sibuk menghitung berapa jumlah sedekah dan harta yang harus disumbang untuk yang lebih membutuhkan, aku masih sibuk menangisi diri sendiri. Aku masih memukul-mukul sekaligus meremas-remas kepala, kesal dengan diri sendiri, ketika hambamu yang lain berlalu-lalang pergi ke masjid.

Sampai disini, terlambatkah aku bersujud bersimpuh dihadapanMu?

Aku merasa menjadi hambaMu yang hina. Pikiran tak pantas untuk manjadi hambaMu selalu melintas. Aku begitu sombong, begitu angkuh.

Makhluk macam apa aku ini, Tuhan?

Comments

Popular posts from this blog

Suatu Hari Anakmu

--- digubah dari tulisan Bhagavad Sambadha Suatu hari anakmu melihat seorang mahasiswa menangis di lorong gelap di salah satu gedung, setelah sebelumnya bertemu ketua dekan untuk nego bayaran kuliah. Mahasiswa itu tidak pernah sekalipun dalam hidupnya takut di-DO, ia hanya takut orang tuanya kelelahan mencari dana selagi dirinya menjadi pelajar. Suatu hari anakmu melihat bocah umur lima belas tahun bekerja siang malam demi nasi dan lauk yang dimakan oleh dirinya dan adik-adik. Di tempatnya bekerja, keringat dan air yang mengalir di wastafel di kampus anakmu belajar mungkin sama derasnya. Bocah itu tidak pernah sekalipun dalam hidupnya takut kelaparan, ia hanya takut orang tuanya kekeringan keringat selagi ia dan adik-adik asik menyantap makanan. Suatu hari anakmu melihat seorang remaja seumur SMP dan SMA menjajakan tissue di bawah lampu merah di mana orang-orang mengumpat karena panas dan dikejar waktu. Di sana, matahari bahkan lebih menakutkan dari perut kosong, karena panasnya tak bi...

Gadis Lima Belas Tahun

Lalu, gadis berumur lima belas tahun itu menghampiriku perlahan, sambil melambai manja ia menawarkan: "Dua ratus lima puluh ribu, mas." Aku hanya senyum sekadar senyum. "Umurmu berapa, dek?" "Lima belas tahun, mas." "Bukankah tak baik gadis lima belas tahun di sini?" Lalu, hening sesaat. Sesak dadaku berpikir kalau-kalau ucapanku menyinggung perasaannya. "Hidup tak hanya tentang baik dan buruk, mas. Setidaknya begitu menurut saya."

KETAKUTAN ITU WAJAR

Perang Mu’tah, adalah perang yang secara rasio tak akan membuat manusia optimis apalagi yakin dengan kemenangan yang dijanjikan. Bayangkan saja, jumlah pasukan Romawi yang berkumpul pada hari itu lebih dari 200.000 tentara, lengkap dengan baju perang yang gagah, panji-panji dari kain sutra, senjata-senjata yang perkasa, lalu dengan kuda-kuda yang juga siap dipacu. Abu Hurairah bersaksi atas perang ini. ”Aku menyaksikan Perang Mu’tah. Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik. Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya. Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas. Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.  Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya berjumlah 3.000 orang-orang beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya pasukan lawan. Sampai-sampai mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada Rasulullah saw, mengabarkan jumlah mu...