Masih tiga pagi.
Aku masih asik menghisap rokok, tamu tamu belum sepenuhnya pulang. Aku masih menunggu, sayang jika ada rupiah yang terlewatkan.
Jum'at ini entah mengapa aku menjadi penganggur. Dandanan setengah terbuka yang biasa aku pertontonkan mendadak tak dilirik, mentok hanya dilirik sebelah mata. Belum ada lelaki hidung belang yang menawar, belum ada bangsat yang datang untuk mengajak sekamar.
Harus tau, kadang keadaan luang seperti ini membuatku rindu, rindu dengan kehidupanku yang dulu dulu, yang masih asri, masih penuh dengan canda dan tawa. Kadang keadaan seperti ini membuatku melamun, menghayal andai aku punya banyak uang, punya suami yang sopan dan pengertian, aku menghayal andai aku berhenti menjadi pelacur, berhenti menjadi perempuan penjerat nafsu suami suami orang.
Seperti perempuan perempuan kebanyakan, aku juga tak sudi mengais rupiah dengan cara yang amat hina. Aku juga tak sudi harus melayani lelaki yang seumur dengan ayahku, seumur dengan adikku, seumur dengan om-ku. Aku juga tak sudi.
Tapi kawan, hal paling menarik dari kehidupan adalah kau tak pernah tau apa yang akan kau hadapi untuk hari esok. Tak pernah sedikitpun kau tau. Seperti itulah aku, aku yang khawatir besok tak bisa makan, besok tak bisa bayar kontrakan, besok tak bisa bayar hutang. Seperti itulah aku yang masih khawatir tentang hari esok padahal Tuhan jelas jelas menjamin kehidupanku. Padahal Tuhan jelas jelas menjamin makanku dengan ayatnya di akhir surah Al Quraisy.
Aku tak kuasa hidup dengan cacian, hidup dengan kemiskinan padahal jelas jelas aku tau bahwa Tuhanku adalah yang maha kaya. Tapi kawan, hatiku terbatas, aku memilih jalan lain untuk makan, bayar kontrakan, bayar utang. Dari berbagai penolakan lamaran kerja, aku memilih menjadi pekerja seks komersil, menjadi pelacur, menjadi sehina-hina nya perempuan.
Dan aku sudah disini, ditempat penuh botol botol bir, berkrat krat whiskey. Aku sudah disini kawan, terbelenggu dengan sehina-hina perkerjaan. Aku sudah disini, duduk menunggu lelaki yang menyambangiku, lalu tawar menawar, masuk kamar satu-dua jam, membuatku menjadi lebih hina, begitu seterusnya sepanjang malam.
Hutang hutangku terbayar, aku sudah tak pusing mikir bayar kontrakan, makan sudah tak pusing memilih lauk.
Comments
Post a Comment