Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2015

Itukah kamu?

Lantas apa yang harus diperbuat? Lari? Berlari macam apa ketika satu kakiku hilang? Terbang? Terbang seperti apa yang kutunjukan ketika sayap sayapku kau runtuhkan? Atau pergi? Jauh darimu padahal kamu adalah bagian dari jiwa jiwaku? Aku mohon Jangan paksa aku berlari ketika aku hanya sanggup berjalan Berdampingan dengan kamu disampingku Jangan buat aku melupakan tiap sudut dirimu dengan sangat terpaksa Jangan buat aku melupakan sesuatu yang setiap saat aku mengingatnya Dengan pagi, dengan naiknya sinar mentari Dengan sangat tidak memikirkan sesuatu dalam hatiku Dengat sangat tak berperasaan Dengan senyuman paling kejam darimu Aku dengan hati bercucuran, dengan perasaan paling remuk Kamu paksa aku untuk berhenti Aku mulai berlari tanpa kaki Mulai mencoba terbang tanpa sayap Entah bisa atau tidak Entah kuat atau tidak Entah mampu atau tidak Tapi kamu yang memaksaku Berhenti Sepi Mati Membiarkan aku sendiri melewati kerikil sepanjang jalan yang aku lewati

Senja

Senja tak pernah ingkar Ia selalu datang dengan tepat waktu Selalu datang setia dengan satu warna Senja selalu tau kapan ia datang dan kapan ia pulang Senja selalu menjadi hal paling tepat melepas lelah Senja tau apa yang harus dihadirkan Warna jingga Bulatan sempurna Hingga cahaya yang redup redam Senja tak pernah berdusta Menutup siang dan memulai malam dengan cara yang khas Senja selalu mampu membuat canda Mengajak patah hati untuk tertawa Untuk senja Perlahan dengan perlahan sinarmu mulai hilang Menandakan awal kelelahan Tanda aku harus pulang Sampai esok kembali senja Sampai jumpa!

Penjelasanku Tentang Shalat Asharku

Diantara derai rambutku yang basah, haruskah menjadi hina agar bisa makan? Hari ini, lengkap dengan mukena dan wajah yang dibasahi air wudhu, untuk yang entah setelah berapa lama aku kembali masuk diantara ubin mushola. Dengan niat yang mantap dan entah dengan berapa tetes air mata yang mengalir bersamaan dengan air wudhu diantara kedua pipiku. Tuhan, entah ini menghinamu atau malah mempermainkanmu. Aku bersujud dengan kening yang isinya penuh dengan hal hal yang tak bisa aku tuliskan dibait bait tulisanku ini. Tuhan, aku tak bermaksud untuk sedang bermain main denganmu. Sedikitpun tak bermaksud menghinamu. Hari ini, pukul tiga lewat tigapuluh tiga menit aku bersujud di rumahmu. Seorang pelacur menunaikan shalat ashar pertamanya setelah entah sekian lama tak ia lakukan. Tuhan, terlepas engkau melihat rukuk dan sujudku atau tidak, aku merasa nyaman setiap kali melakukannya. Diantara empat rakaat yang aku lakukan aku merasa bahwa aku tak harus berlari dari pandanganmu. Aku merasa aku

Penjelasanku Tentang Kamu

Aku hanya perempuan yang berusaha mencintaimu dengan sempurna. Dengan kata kata yang tak mampu menggambarkan, dengan suara yang tak kuasa didengar, dengan segala pekerjaanku yang orang bilang sebagai pelacur. Penghibur hasrat sesaat yang dengan sangat terpaksa dilakukan demi mengganjal perut lapar. Aku sadar siapa aku. Aku hanya perempuan yang pulang jam tiga atau empat pagi dengan pekerjaan yang sebagian orang jijik mendengarnya. Aku melihatmu disudut terjauh dari pandangan mataku. Diam diam. Tanpa sepengetahuan darimu. Tanpa izin resmi darimu. Aku mencintaimu. Jika harus kukatakan aku selalu membayangankan tamu tamu yang kulayani adalah sosok lain darimu. Sekali lagi maaf, ini samasekali tanpa seizinmu aku memakai khayalanku dengan figur lelaki se-sempurna km. Aku melakukan hal paling lancang dari sosokmu itu semata mata hanya agar aku tak terluka setiap kali harus seranjang dengan lelaki yang samasekali tak kuncinta, tak kusuka, bahkan tak kukenal sekalipun. Aku hanya berusaha s