Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Mami

Empat tahun yang lalu, mami memberiku peluang untuk hidup yang menurutnya lebih berhak aku dapatkan. Aku tak pernah mengerti apa maksudnya ketika ia bilang bahwa perempuan bisa menjadi harta, menjadi emas, menjadi uang hanya bermodal tubuhnya. Aku terlalu putih untuk kopi yang mami tuangkan, tak bisa kunikmati, hanya kutenggak perlahan lahan sampai aku terbiasa dengan pahitnya. Mami memberiku segalanya. Kost-an yang cukup lebar, lengkap dengan segala apapun yang dibutuhkan, listrik, TV, AC, kasur yang empuk, bersih dan macam macam barang yang sudah tertata rapih ketika aku menempati kamar kost mami yang diberikan kepadaku. Aku seperti dibawa terbang, semua yang kubutuhkan langsung dibawakan, dihadirkan cuma untuk menyenangkanku. Mami, sampai hari ini aku pergi dari rumahnya secara baik baik, tak pernah aku merasa tak enak hati karena kata katanya, karena perbuatannya. Mami, meskipun pekerjaannya tak baik, meskipun yang ia lakukan sama sekali tak boleh ditiru oleh siapapun, tapi seben

Anak-Anak

Ada yang lebih aku sukai ketimbang libur menjadi pelacur, aku suka melihat anak-anak bermain. Sepulang dari pasar membeli sayur dan bahan makan untuk sehari, aku memilih pulang dengan jalan kaki. Aku punya cukup uang untuk naik ojek, tapi pagi itu memaksaku menggunakan kaki-ku untuk melangkah. Setelah melewati beberapa rumah dan gang, perjalanan pulangku terhenti di depan sebuah sekolah dasar. Aku duduk, kuluruskan kakiku kedepan sambil memesan minuman botol, pagi itu seperti waktu menungguku, aku tak tergesa-gesa untuk sampai kerumah, aku tak merasa dikejar-kejar 'setoran', waktu dan diriku begitu mesra, kita seperti saling menunggu satu sama lain. Jam sembilan pagi. Didepanku tepat gerbang pintu sekolah, anak anak berhamburan keluar membeli jajanan, ada yang sekedar duduk duduk, ada yang sedang main petak umpet, macam-macam. Mereka tertawa-tawa, terbahak-bahak, sedang aku duduk dengan leganya, kuukir senyuman dibibirku, tak jelas kemana arah senyumanku. Dalam hatiku, tak

Mimisan

Pagi itu aku tertegun, aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Hidungku seperti berada diluar kontrol, pagi itu aku merasa pusing, aku mencoba duduk tapi tiba tiba darah keluar dari satu sisi hidungku. Aku tertegun, tak percaya pada pandanganku, lalu pusing datang menyusul, seolah tak mau kalah dengan kehadiran darah dihidungku. Aku panik, kulucuti jaketku dengan tergesa gesa, mencoba sekuat hati menahan darah yang seakan berontak ingin keluar dari hidungku secara bersamaan. Aku duduk dengan gerakan yang tak bisa kuingat lagi. Bersamaan dengan setiap tetes darah yang mengucur, kepalaku sangat pusing, pusing yang tak bisa kugambarkan dalam media apapun. Dua jam lalu, meskipun letih dan lemas menghampiri, aku masih sehat, masih bisa membedakan antara wajah manusia dengan hewan, masih bisa membedakan warna warna. Dua jam lalu aku masih bisa melayani tamu keduabelasku dikamar, seperti biasanya. Dua jam lalu, meskipun pusing dan keseimbangan mulai pudar, aku masih mampu menenggak b